Luka Tanah by Hary B Kori’un

luka tanah
Kampung halaman memang bahan baku karangan yang mustajab. Namun, tak banyak pengarang yang mampu meramunya menjadi senarai cerita yang mengalir dengan takaran diksi yang tak neko-neko namun mengena. Tak berlebihan bila Hary B Kori’un saya katakan salah satu dari yang berhasil itu. Luka Tanah, buktinya! (BENNY ARNAS, Pengarang)
 
Gagasan tentang entitas-entitas perbedaan (difference) dalam diskursus politik identitas kultural, adalah juga terkait tentang relasi-relasi kekuasaan politik etnis yang terjasi di banyak negara multikultural, termasuk Indonesia. Konflik tanah, misalnya, adalah simbolisasi yang kerap menyoal tak semata ihwal klaim atas kepemilikan benda, tetapi juga klaim atas “tanah” sebagai representasi nilai dari sebuah upaya penegasan identitas; pribumi- nonpribumi. Gagasan seputar tema ini, dibingkai berjalin dengan perselingkuhan “ideologis” para tokohnya dalam novel Luka Tanah. Sebuah novel “kontekstual”, tempat bercermin wajah realitas kita hari ini. (MARHALIM ZAINI, Sastrawan)
 
Sebuah novel dengan kepingan panduan yang kuat. Saya seperti merasa ada dalam putaran waktu yang baru saya jejaki semalam, mengingat pada koran-koran usang, mengingatkan pada ibu, mengingat pada kekasih, mengingat tanah ini, tanah yang luka… (YUDHI HERWIBOWO, Penulis Novel Untung Surapati)

 
Detail Buku :
 
Judul : Luka Tanah
Penulis : Hary B Ko’irun
Penerbit : Palagan Press
Cetakan : I, Mei 2014
Tebal : 174 hlm
 
Sinopsis :
 
Novel ini berkisah tentang Rama Wahyu Prasetya, seorang sarjana hukum yang sepanjang hidupnya digunakan untuk mencari tahu tentang mengapa ayahnya diculik orang tak dikenal di sebuah desa pedalaman di Sumatera saat umurnya lebih-kurang setahun. Setelah ayahnya diculik, ibunya membawanya kembali ke Jakarta dan dia dibesarkan di sana. Setelah selesai kuliah hukum, dia kembali ke Sukadana dan menyamar dengan nama Samin. Di sana, dia menemukan rumah lamanya dan juga tanah jatah transmigrasi dari pemerintah. Dia kemudian memugarnya, dan tinggal di desa itu beberapa lama. Di rumah itulah, lewat mimpi, dia bisa bertemu dengan ayahnya, dan dalam mimpi juga, dia bisa menyaksikan masa lalu ayahnya yang nyaris masuk dalam lubang pembunuhan massal yang dilakukan pemerintah transisi Soeharto setelah G 30 S/PKI.
 
Dia kemudian tahu, orang-orang yang menculik ayahnya adalah tentara/inteljen pemerintah yang tetap menganggap ayahnya terlibat pemberontakan komunis. Ketika tinggal di Sukadana, terjadi kerusuhan berbau etnis yang melibatkan penduduk tempatan dan penduduk transmigrasi asal Jawa. Rama atau Samin dianggap biangnya, dan dia ditangkap polisi dan kemudian dipenjara.
 
Setelah keluar dari penjara, dia bekerja untuk kemanusiaan. Dia selalu ada di tempat-tempat kejadian yang membutuhkan relawan seperti gempa, tsunami, dll. Saat gempa 1995 di Kabupaten Kerincin (Jambi) dia berkenalan dan kemudian jatuh cinta dengan Kartika, seorang dokter relawan yang telah memiliki suami dan anak, yang diselamatkannya ketika terjadi kerusuhan yang sempat melukai dua wartawan Majalah Kartini. Keduanya kemudian terlibat cinta terlarang, namun kemudian tersadar dan berjanji saling melupakan meski saling mecintai.
 
Profil Penulis
 
hary b koriun

HARRY B KORI’UN lahir di  Kabupaten Pati, Jawa Tengah, bersama keluarga besar orang tuanya, ia  hijrah ke Jambi, tepatnya di suatu lokasi perkebunan di kawasan Rimbobujang, Provinsi Jambi. Ia menamatkan SD hingga SLTA di kampung halaman keduanya itu. Kuliah Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Andalas (Unand) Padang.

Cerpen-cerpennya dimuat di beberapa media, seperti Sinar Pagi, Mutiara, Singgalang, Haluan, Sriwijaya Post, Lampung Post, Riau Pos, Pekanbaru Pos, Riau Mandiri, Suara Riau, Anita Cemerlang, Ceria Remaja, Aneka Ria, dan beberapa media lainnya.

Novel-novelnya yang sudah terbit Nyanyi Sunyi dari Indragiri (Gurindan Press Pekanbaru, 2005), merupakan novel terbaik Riau 2004 dalam Lomba Menulis Novel Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji Pekanbaru, dan memperoleh penghargaan ’’Ganti Award I 2004’’. Novelnya yang lain, Nyanyian Batang Hari (Akar Joyakarta, 2005) pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Surat Kabar Harian Republika (Januari-Maret 2000). Novel Jejak Hujan (Grasindo Jakarta, 2006) masuk nominasi 10 besar Lomba Menulis Novel Radio Belanda kerjasama dengan Penerbit Grasindo tahun 2005. Novel Malam, Hujan (Gurindam Press Pekanbaru, 2006) masuk nominasi lima besar Lomba Menulis Novel Yayasan Bandr Seni Raja Ali Haji Pekanbaru tahun 2005. Novel Mandiangin (Gurindam Press Pekanbaru, 2008) masuk nominasi Lomba Menulis Novel Yayasan Bandr Seni Raja Ali Haji Pekanbaru tahun 2007, Dan Nyanyian Kemarau (Kaki Langit Kencana, 2009)

Harry B Kori’un mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai nominator cerpen terbaik Indonesia 1998.  Bersama Yosrizal, ia menulis buku tentang sejarah sepakbola, yakni Kerbau Merah dari Indarung: Semen Padang di Lintas Sepakbola Indonesia (PT Semen Padang, 2002). Saat ini bekerja sebagai wartawan di Surat Kabar Harian Riau Pos (Pekanbaru) dan menggakkan Komunitas Paragraf.

 
###
 
Terima kasih untuk Bang Hari B Kori’un yang telah membuntelkan buku ini untuk saya. Akan saya baca dan buatkan reviewnya. Mohon kesabarannya menunggu saya membaca dan mereviewnya ya. 🙂
 
 
Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s