Alien itu Memilihku by Feby Indirani

alien ituBuku ini merupakan kisah nyata Indah Melati Setiawan dalam menghadapi  Ewing Sarcoma, kanker tulang langka yang bersarang dan tumbuh di paha kirinya.

Berikut saya sertakan detail buku, deskripsi, serta prolog dari buku ini. Moga manfaat.

Judul : Alien itu Memilihku (Kisah Nyata Indah Melati Setiawan Menghadapi Kanker Langka)

Penulis : Feby Indirani

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 299 hlm

“Pahaku yang sebesar pepaya mengkal terasa berdenyut-denyut. Aku membayangkan jari-jari alien itu tumbuh semakin besar dan bergerak aktif mencengkeram tulang. Makhluk asing yang menjadi kian kuat dari waktu ke waktu. Aku bergidik ngeri membayangkan alien itu menelusup di balik kulit—dalam diam namun sangat gesit—melancarkan peperangan dan upaya merebut kekuasaan atas tubuhku.”

Kehidupan Indah—seorang wanita profesional Jakarta yang aktif dan dinamis—tiba-tiba berubah 180 derajat. Paha kirinya membengkak dan semakin besar dari waktu ke waktu, seolah ada “alien” yang tumbuh dan bersarang di dalamnya. Kaki kirinya terancam diamputasi dari pangkal paha. Lebih dari itu, ancaman maut pun hadir persis di depan matanya.

###

alien-dalamPROLOG

Alien itu bernama Ewing Sarcoma. Melepaskan diri darinya adalah salah satu keajaiban terbesar yang terjadi dalam hidupku. Dan, masih akan seperti itu setiap harinya, sepanjang sisa hidupku.

Mungkin kamu pikir aku membual, atau aku adalah bagian dari sekelompok pengikut motivator yang selalu menjawab “luar biasa” ketika ditanya “apa kabar.  Atau selalu bilang “selamat pagi” tak peduli pukul berapapun saat itu. Apakah itu artinya perilaku optimis memang memiliki setidaknya sedikit gejala delusional, aku tidak tahu. Aku menganggap hari-hariku merupakan keajaiban, karena begitulah orang-orang katakan tentangku.

Seperti hari itu di penghujung Mei 2013 yang terik. Ruangan aula dipadati hadirin yang hendak mendengarkan seminar publik bertema Waspadai Kanker Tulang. Aku menghadiri acara yang diadakan Cancer Information & Support Center (CICS). Aku duduk di antara  hadirin, mendengarkan seksama penjelasan dokter ortopedi di depan ruangan. Rambutnya yang menipis termakan usia, tak tersisir rapi, seperti baru habis mengendarai motor dan tak sempat bercermin sebelum menjadi pembicara siang itu. Kulit kepalanya mengilat diterpa lampu. Tubuhnya tinggi gempal dengan perut yang agak membuncit. Gejala  yang banyak terjadi pada pria paruh baya ibukota, banyaknya asupan tapi kurang bergerak.

Sang dokter menjelaskan macam-macam jenis kanker tulang. “Tidak semua kanker tulang itu berbahaya,” ujarnya. Dia menunjukkan beberapa slide presentasi tentang kanker tulang. Ada jenis kanker tulang hanya menimbulkan benjolan, tapi tidak serta merta merupakan kanker ganas.

“Kanker tulang yang dinamai dengan ‘sarcoma’ biasanya sudah ganas,” ujar sang dokter. Dia memperlihatkan slide tentang osteosarcoma yaitu salah satu jenis kanker tulang yang paling berbahaya. Tempat-tempat yang umum terserang Osteosarcoma adalah kanker yang biasanya bersarang di lutut dan bahu, meskipun juga di anggota tubuh lainnya.

Slide terakhir persentasinya memperlihatkan jenis Ewing Sarcoma, tapi sang dokter melewatkannya begitu saja. Hingga terdengar protes dari seorang anggota panitia untuk menjelaskan lebih detail tentang Erwing Sarcoma. “Maf, Dok, tolong dijelaskan, sebab ada penderita penyakit ini yang hadir..”

“Oo baiklah. Apa yang ingin diketahui?” ujar sang dokter sambil mengembalikan slide ke bagian Ewing Sarcoma. “Ya, Ewing Sarcoma ini termasuk kanker tulang yang ganas, kalau sudah kena…sudahlah akan kecil sekali kemungkinan untuk selamat. Malah bisa dibilang tidak mungkin.”

Aku akhirnya mengangkat tangan untuk minta izin bicara. “Saya survivor Ewing Sarcoma, Dok…”

“Ibu atay anak ibu?” tanyanya tak menutupi rasa heran. Erwing Sarcoma memang kebanyakan hanya menyerang anak-anak dan sangat langka dialami orang dewasa.

“Saya…”

“Wah kalau Ewing Sarcoma sudah susah itu…”

“Tapi kata dokter saya, kondisi saya bagus…”

Sang dokter menggerak-gerakkan kepala separuh botaknya ke kanan dan kiri sambil dengan tangkas menganggapi,”Yah mungkin dia hanya memberi semangat sajalah”

Kata-katanya terasa menonjok ulu hatiku. Tapi aku tetap mengakkan tubuh dan menyahut cepat, “Saya sudah memasuki tiga tahun sejak operasi. Saya menjalani kemoterapi puluhan kali dan kondisi saya bagus. Saya dinyatakan remisi dari Ewing Sarcoma.”

Sang dokter, yang kulit kepalanya mengilat diterpa cahaya lampu itu, tercengang dan sesaat kehilangan kata-kata. “Wah itu sebuah keajaiban. Sungguh luar biasa Anda sampai bisa selamat dari Ewing Sarcoma,” ujarnya takjub. Mulutnya sempat terbuka beberapa detik. Melongo.

Aku tersenyum getir, antara sebal pada sikap sang dokter yang sempat meragukan kesembuhanku, dan geli melihat respons selanjutnya.  Namun aku memang tidak bisa menyalahkannya. Harapan kesembuhan seperti dikatakannya, mungkin hanyalah penghiburan belaka bagi banyak penderita kanker tulang.

Tapi, aku bisa jadi adalah salah satu bukti; kejaiban itu masih ada.

###

alien-foto-penulisIndah Melati Setiawan beserta Feby Indirani (Sumber foto Facebook Alien itu Memilihku)

###

Buku ini dibuntelkan oleh Sdri. Yanah Mulyanto, asisten dari penulis buku Alien itu Memilihku. Thx banget ya.

@htanzil

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s