Santo dan Sultan by Paul Moses

Buku ini merupakan buntelan dari Penerbit Alvabet, terjemahan dari buku Saint and the Sultan – The Crusades, Islam, and Francis of Assisi’s Mission of Peace by Paul Moses, 2009

santo sultan

Santo dan Sultan, Kisah Tersembunyi tentang Juru Damai Perang Salib by Paul Moses, Penerbit Alvabet, cet I, Des 2013, 440 hlm

Sinopsis :

Pada 1219, ketika Perang Salib V berlangsung, St. Fransiskus dari Assisi menyeberangi garis pasukan Muslim untuk menemui Sultan Malik al-Kamil di kampnya di tepi Sungai Nil. Menawarkan perdamaian, ia meminta sang Sultan memeluk Kristen. Negosiasi tak membuahkan hasil. Namun, pertemuan itu mendorong gagasan revolusioner di kalangan Kristen. Kembali dari pertemuan, St. Fransiskus justru menganjurkan pengikutnya agar hidup damai dengan Muslim—sebuah keputusan revolusioner, sebab kala itu umat Kristen menggantungkan harapannya untuk mengubah keyakinan Muslim melalui peperangan.

Selama bertahun-tahun, cerita itu hanya samar-samar terdengar. Dan, melalui buku ini, Paul Moses mengungkap informasi yang sangat sedikit diketahui perihal diplomasi damai antara sang Santo dan sang Sultan. Tak hanya mengisahkan kehidupan kedua tokoh tersebut, buku ini juga mengurai intrik politik dan gairah keagamaan pada zaman itu. Lebih dari petualangan dramatis, inilah kisah pergulatan orang kudus dan pendosa, kesetiaan dan pengkhianatan, serta cerita perang yang menggetarkan. Inilah bacaan penting bagi yang menginginkan perdamaian antara Barat dan dunia Islam.

###

Berikut cuplikkan bagian pertama dari bab Pendahuluan buku ini :

Fransiscus berdiri di hadapan  Sultan Mesir.

Dia sudah mendambakan pertemuan dengan pemimpin umat Islam sekurang-kurangnya tujuh tahun,  dan menempuh perjalanan berbahaya tiga kali selama periode tersebut. Sekarang saatnya telah tiba, di tengah kecamuk Perang Salib yang menewaskan ribuan orang di bawah terik yang menyengat di tepian sungai nil pada akhir musim panas 1219. Pemimpin pasukan Kristen – Kardinal Pelagsius sendiri –  telah memperingatkan biarawan dari Asisi tersebut bahwa melintasi  medan pertempuran antara dua pasukan guna menemui Sultan  Malik al-Kamil ini adalah tindakan bodoh. Fransiskus yang tidak asing lagi dengan kekejaman manusia dalam peperangan, tahu betul akan penyiksaan dan mutilasi yang dilakukan kedua pasukan terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai mata-mata. Dia diberi tahu bahwa sang sultan itu monster, seorang tiran kejam yang mungkin akan memerintahkan agar dia dihukum mati. Namun Fransiskus melakukan perjalanan jauh untuk menemui sang sultan dan keukeuh kepada sang kardinal bahwa dia mesti pergi.

Tuhan pun memperkenankannya.

Di dalam tendanya, sang Sultan memandangi pasangan yang aneh itu : Fransiskus dan rekan seperjalannya , Bruder Illmuniatus, dua biarawan bertelanjang kaki yang berpakaian tunik cokelat kasar dan penuh tambalan. Prajuritnya menemukan dua orang itu berkeliaran di pinggiran perkemahan pasukan Muslim dan menangkap mereka dengan kasar. Fransiskus dan Illuminatus berseru, “Sultan! Sultan!”. Bahwa orang-orang Kristen  tenpa senjata ini selamat dalam pertemuan awal mereka denga pasukan sang sultan saja sudah cukup mengherankan. Apa yang mereka inginkan? Sang Sultan berpikir bahwa barangkali orang-orang Frank, sebagaimana sebutan umat Islam terhadap semua tentara Salib, mengirim ke tendanya dengan membawa balasan atas usulan perdamaian terbaru darinya. Sang Sultan, yang lelah oleh peperangan, sangat menginginkan adanya kesepakatan yang akan mengakhiri pengepungan pasukan Kristen terhadap Diammietta, sebuah kota di muara Sungai Nil, di sana rakyatnya sedang sekarat karena penyakit dan kelaparan.

fransiskus n sultan

“Semoga tuhan menganugerahi Anda kedamaian.” Fransiskus mengejutkan sang Sultan dengan kata-katanya. Itu ucapan salam standar sang biarawan – yang paling tidak biasa bagi umat Kristen pada masanya, terutama selama masa peperangan.  Hal itu membingungkan bagi sang sultan. Tidak tahu pasti tentang maksud dari para pengunjungnya ini, sang sultan bertanya apakah mereka datang sebagai wakil pasukan Sri Paus.

“Kami utusan Tuhan Yesus Kristus,” jawab Fransiskus. Sang sultan, seorang pria lembut dan filosofis yang dididik dalam tata cara orang Kristen, tidak mungkin keliru dalam memahami perbedaan yang Fransiskus gunakan dalam menegaskan bahwa dia utusan Tuhan, bukan utusan Sri Paus. Sosok pria kecil dan temannya yang pemberani ini menarik minatnya – mereka bahkan menyerupai para sufi berpakaian compang-camping yang dihormati dang sultan karena wawasan mistik mereka tentang Islam.

“Jika Anda bersedia memercayai kami,” Fransiskus melanjutkan, “kami akan menyerahkan jiwa Anda kepada Tuhan.”

Sultan Malik al-Kamil mengizinkan orang ini melanjutkan perkataannya. Kemudian dia mendengarkan dengan saksama saar Fransiskus mulai bicara.

(hlm ix-xi)

###

@htanzil

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s