Be a Reader & Be a Writer by Antoni Ludfi Arifin

be a readerDua buku karya Antoni Ludfi Arifin ini dibuntelkan oleh penulisnya untukku. Berikut detail kedua bukunya :

Be a Reader : Mendulang Aksara, Meraih Makna by Antoni Ludfi Arifin, Gramedia Pustaka Utama, I, Juli  2013, 108 hlm

Tradisi membaca, seperti yang telah Tuhan wahyukan: Iqra—Bacalah, masih belum menjadi kebiasaan yang menyenangkan, bahkan sering gagal dilaksanakan. Tradisi membaca hanya tumbuh di dunia pendidikan formal, setelah selesai menempuh ilmu, tradisi tersebut hilang ditelan kesibukkan.

Tradisi membaca yang kini telah banyak dilakukan di dunia pendidikan formal kiranya perlu merambah dunia nonformal, agar ia tidak terhenti ketika selesai menempuh pendidikan saja. Membaca buku juga harus dibudayakan di mana pun dan kapan pun kita berada. Jadikanlah buku sebagai teman yang baik saat menunggu di ruang-ruang antrean, di gerbong-gerbong kereta, di atas bus, ataupun saat perjalanan pesawat. Di rumah sekalipun, buku menjadi teman yang baik untuk menggantikan budaya menonton sinetron.

Kritik Taufiq Ismail masih relevan adanya, “Mengapa para penumpang di gerbong kereta api Jakarta-Surabaya tidak membaca novel, tapi menguap dan tertidur miring? Mengapa di dalam angkot di Brebes, Tegal, penumpang tidak membaca kumpulan cerpen, tapi mengisap rokok? Mengapa di halaman kampus yang berpohon rindang mahasiswa tidak membaca buku teks kuliahnya, tapi main gaple? Kenapa di kapal Makassar-Banda Naira penumpang tidak membaca kumpulan buku puisi, tapi main domino?”

Belajar dari para tokoh besar di dunia, mereka besar karena membuka cara pandang dengan membaca: buku-buku tersurat (tertulis) pada makna sesungguhnya (tekstual) dari para cerdik cendekia dan buku-buku yang tersirat, yaitu bacaan kehidupan (kontekstual) yang terlahir dari “rahim” pengalaman. Kebiasaan gemar membaca ini adalah cara kita mengisi jiwa lewat “nutrisi” bacaan sehingga pemikiran terus “terbarukan”.

Pesan Prof. Din Syamsuddin dalam buku ini patut menjadi renungan, “Pentingnya membaca sebagai jambatan ilmu. Sebuah upaya meniti jembatan yang membentang agar dapat ditapaki dan dijelajahi sehingga kita mendapatkan ‘makna’ dari setiap untaian kata yang terukir dari setiap tulisan. ‘Makna’ yang ditangkap inilah yang dapat dijadikan faedah bagi manusia untuk berbuat baik, dan memberikan ‘cahaya’ jalan kebaikan kepada orang lain.”

Be a Writer by Antony Ludfi Arifin, Gramedia Pustaka Utama, cet I – Sept 2012, 142 hlm.

Menulis juga merupakan cara berkomunikasi. Perannya sejajar dengan komunikasi lisan yang dibangun sejak masa kita balita dulu. Namun, bahasa tulisan ini dalam konteks sosial sehari-hari “kalah” cepat berlari dibanding bahasa lisan. Alhasil, budaya tulis lebih sedikit berkembang dibanding budaya ngobrol, ngerumpi, dan ngegosip.

Buku ini mencoba mengambil peran untuk berbagi. Bagaimana mencurahkan ide yang ada di kepala menjadi tulisan di sela-sela kesibukan kita. Di tengah kesibukan setiap hari sebagai profesional, karyawan, pengusaha atau wirausaha, guru atau pengajar, pelajar atau mahasiswa yang sibuk bekerja dan belajar. Di tangan mereka banyak hal yang sudah dikerjakan dan di kepala mereka masih banyak ide yang perlu disampaikan; saatnya untuk berbagi ilmu kepada orang lain dengan cara menulis

@htanzil

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s