Sabda Palon 3 : Geger Majapahit

Novel Sabda Palon 3 : Geger Majapahit ini adalah buntelan dari Penerbit Dolphin. Novel ini merupakan buku ketiga dari seri Sabda Palon (Buku 1 : Sabda Palon, Kisah Nusantara yang Disembunyikan; buku 2 : Sabda Palon Roh Nusantara dan Orang-orang Atas Angin).

Berikut detail dan sinopsis novel ini.

sabdaJudul : Sabda Palon #3 : Geger Majapahit

Penulis : Damar Shasangka

Penerbit : Dolhphin

Cetakan I, 2013

Tebal : 458 hlm

Jati diri Sabda Palon dan Naya Genggong terkuak perlahan-lahan di hadapan Bhre Kêrtabumi. Meskipun demikian, dua sosok misterius itu masih diselimuti kabut tebal, samar dan tersembunyi. Itu terjadi setelah Bhre Kêrtabhumi mendatangi beberapa petilasan suci: Gunung Kawi, Dharmma Badhyut, Gunung Pawitra, dan Gunung Lawu. Di tempat-tempat itu dia menggelar tapa brata sesuai perintah sosok niskala yang dipercayainya sebagai Resi Agastya, pamomong Nusantara.

Sementara itu, perkembangan Majapahit semakin tidak menentu setelah Raden Kêrtawijaya dinobatkan sebagai raja Majapahit menggantikan Rani Suhita yang telah mangkat. Takhta Tumapêl yang semula dia duduki dilimpahkan kepada adiknya, Raden Kêrtarajasa. Perseteruan diam-diam terjadi antara kakak-beradik itu. Kekacauan pun sengaja disebar di mana-mana.

Pada saat yang sama, Haji Gan Eng Cu dan Adipati Tuban Arya Adikara wafat hampir bersamaan. Tetapi kematian dua tokoh penting tersebut segera mendapat pengganti, seolah sudah ada yang mengatur. Sayyid Ali Rahmad dan Sayyid Ali Murtadlo sama-sama mendapatkan putra yang kelak akan menjadi ulama kenamaan. Sementara Tumenggung Wilwatikta mempunyai putra yang kelak bakal menentukan wajah Islam di Nusantara.

###

Di novel ketiga seri Sabda Palon ini, penulis melengkapinya dengan dua buah peta (Wilayah Kekuasaan Majapahit, Kota-kota di Jawa Tahun 1400 M) dan sebuah denah Keraton Majapahit.

denah sabdaSelain itu dilengkapi juga dengan lampiran-lampiran sbb:

– Silsilah Sabda Palon dan Nya Genngong

– Silsilah Keraton Tuban dan Lasem

– Silsilah Sayif Ali Rahmad

Profil Penulis

damarDamar Sashangka lahir di Malang 33 tahun yang lalu. Kelahirannya di keluarga Kejawen membuatnya sangat tertarik kepada mistisme dan spritiualitas semenjak kecil. Saat masih berumur belasan tahun, ia memperoleh visi bahwa suatu saat dirinya bakal menulis banyak buku tentang sejarah Nusantara.

Selain seri Sabda Palon Damar yang fasih berbicara dan menulis tentang spiritualitas Islam, Kejawen, dan Siwa Budha ini juga telah menulis novel Wali Sanga dan menerjemahkan dan mengulas dua kitab kuno Jawa legendaris, Darmaghundul dan Gatholoco.

@htanzil

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Sabda Palon 3 : Geger Majapahit

  1. H. Bebey says:

    ALTER PADA BUDAYA NUSANTARA KU.

    Untuk dapat menikmati suatu kebanggaan yang ingin kurasakan sebagai masyarakat bani jawi, kucoba menelusuri kepustakaan yang ada di Google, dimulai dengan informasi bahwa proto homonoid yang merupakan pra-manusia suatu bentuk manusia purbakala yang sudah ada semenjak satu juta tahun yang lalu, dan berkembang secara evolusi. Penelitian selanjutnya secara akademis tentunya, manusia diperkirakan bermula sejak 44.000 tahun yang lalu, dan mereka sudah dianggap manusia modern (homo sapiens) sekitar 11.000 tahun yang lalu. Sekarang coba bayangkan dan bandingkan dengan masyarakat di Gunung Padang Cianjur yang dihebohkan akhir-akhir ini, dimana masyarakat bani jawi sudah berbudaya sejak 25.000 tahun yang lalu (terbukti hasil pengeboran kedalaman 5 sampai 12 meter telah berusia 14.500 sampai 25.000 tahun), luar biasa bukan dan tentunya sangat membagakan, itu memperlihatkan suatu produk peradaban tinggi, dan dapat dikatakan suatu mahakarya arsitektur dari jaman pra-sejarah. Fenomena ini tidaklah mengherankan kalau diteliti secara keilmuan, sebab Pithecanthropus Erectus (manusia Jawa) merupakan manusia purba Nusantara yang hidup sekita dua juta hingga 200.000 tahun yang lalu. Dengan demikian perkembangan kebudayaan mereka telah menelan waktu 175.000 tahun guna mencapai kebudayaan yang dipertunjukan dan terpatri di situs reruntuhan arkeologi Gunung Padang. Dan rasa bangga nya lagi bahwa ternyata masyarakat Sunda Kuno mempunyai keyakinan yang dikenal sebagai agama sunda wiwitan, disamping suku jawa telah memiliki kepercayaan monotheisme, suatu keyakinan bahwa Allah Yang Maha Kuasa yang dilambangkan dalam bahasa sunda sebagai ‘nu ngersakeun’ dan itulah sebabnya disebut juga Sang Hyang Keresa, dengan demikian bahwa bani jawi yang melalang buana ke manca negara mengendarai perahu layar seperti terpahat di dinding candi Borobudur, mereka berbekal ajaran monotheisme, dan nantinya akan berintergrasi dengan keyakinan nabi Ibrahim AS.
    Nabi Ibrahim AS yang telah terpapar oleh spiritual istrinya bernama Ken Turah, dan disaat beliau menyadari bakal meninggal dunia, pada anaknya Isak dan Ismail diberikan warisan, sedangkan pada anaknya yang berasal dari istri ketiga Ken Turah ini beliau memberikan wasiat yang sangat berharga yaitu suatu serpihan puzzle berbentuk kunci rahasiah yaitu ketimur, gunung, keris, dan alter yang harus dicari untuk mendapatkan asal usul dari ibunya.
    Adalah sekelumit riwayat Keturah dalam teks Yahudi kuno yang berarti kemenyan ataupun wewangian yang dapat digunakan dalam upacara ritual, disisi lain kita teringat bahwa masyakat purba kita yang melalang buana sebagai pelaut ulung keseluruh manca negara yang salah satunya menuju kearah ke timur tengah itu seperti terlihat dari pahatan perahu di dinding candi Borobudur itu dalam upaya berniaga menjual kemenyan, kapur barus, emas dan tembaga, yang keberangkatan mereka dari pelabuhan Baros maupun dari pantai utara pulau jawa.
    Kita masih ingat hapalan sejarah nusantara, bahwa Ken Arok si anak bengal dan penjudi dari anak haram seorang brahmana dapat mencapai kedudukan sebagai seorang raja di Tumampel, selanjutnya dikenal sebagai kerajaan Singosari setelah menang dari pasukan kerajaan Kediri dengan rajanya bernama Kertajaya, sehingga bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi. Dari kisah selanjutnya Ken Arok dan Ken Dedes lah akan menurunkan wangsa yang dikemudian hari merupakan cikal bakal raja di tanah jawa. Dan juga jangan lupa bahwa sejarah nusantara diantaranya dibangun oleh kisah keris Mpu Gandring yang bertuah yang mengandung kutukan telah memakan korban 7 para raja dari kalangan elit Singosari, suatu kerajaan megah berdiri di daerah sejuk Malang, Jawa Timur.
    Dari informasi di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa sudah terjawablah wasiat Nabi Ibrahim AS kepada anaknya yang harus mencari leluhurnya yaitu melalui keris, dan pengertian alter yang dipunyai oleh mpu Gandring, yang terbukti kutukan keris yang belum sempurna itu setelah ditikamkan pada dirinya akan meminta korban lagi enam kali akan tertikam oleh keris mpu Gandring. Alter lain bisa kita ambil dari sejarah kerajaan Kediri, dimana Maharaja Jayabhaya seorang raja kerajaan Kadiri yang memerintah dari tahun 1135 sampai tahun 1157 dengan gelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
    Alkisah sang prabu diinformasikan oleh staf kerajaan akan kedatangan tamu ‘terhormat’, seorang pandita dari kerajaan Rum yang bernama Sultan Maolana yang mengakuaku sebagai cucu rasul, dikenal dari sastra jawa sebagai Ngali Samsujen. Sebagai orang timur yang beradab budaya luhur maka sang prabu tentunya menerima tamu tersebut dengan penuh kehormatan tinggi. Akan tetapi sebenarnya siapakah Sultan Maolana tersebut. Di dalam kepustakaan google, terungkap bahwa yang dimaksud Rum adalah kekaisaran Seljuk Raya yang dikenal juga sebagai kekaisaran Seljuk Agung adalah imperium Islam Sunni. Pada saat itu dinegaranya sedang terjadi gonjang ganjing perebutan kekuasaan antara islam sunny dengan islam syi’ah. Tentunya dengan demikian Sultan Maolana diperkirakan berpaham syi’ah yang telah meninggalkan negrinya untuk menghindari dari kejaran kaum sunni, menuju ke arah timur sesuai dengan petunjuk wasiat nabi Ibrahim SA, dan bermaksud sowan, mencari, dan menuju ke sebuah bukit atau gunung yang mempunyai keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan alhamdulilah dia sampai ke daerah Cianjur tempat spiritual yang hebat bani jawi yaitu Gunung Padang.
    Perlu diingat bahwa kemungkinan kekaisaran Seljuk Raya dipimpin oleh khalifah saat itu adalah Abu Harits Sanjar (1117 – 1128 M) yang merupakan khalifah terakhir, itulah sebabnya sultan Maolana berlayar meninggalkan negerinya, dan sampai di nusantara mengaku ngaku sebagai cucu rasul wkwkwk.
    Pertemuan dengan Joyoboyo tentunya banyak manfaatnya bagi sang sultan Maolana, dan setelah berdiskusi dan saling menimba ilmu, sang sultan pamit diri, maka selanjutnya sang prabu akan dikenal sebagai seorang yang mempunyai daya alter yang tinggi dengan produk ramalan/jangka, yang dikenal dan dapat dibuktikan merupakan bentuk alter Joyoboyo tingkat tinggi.
    Sang Prabu memanggil anak lakinya, diajak sang bapak guna menemaninya ke Gunung Padang yang memerlukan waktu perjalanan selama satu bulan, untuk menemui Ajar Subrata seorang petapa yang tengah menjaga kelestarian agama sunda wiwitan. Tentunya Ajar Subrata menyambutnya dengan penuh hormat karena sang Prabu merupakan titisan Betara Wisnu. Dua orang tersebut mempunyai daya linuwih tinggi/alter/ilmu hakikat beradu kesaktian dalam bernubuat, dan dikisahkan Ajar Subrata menghidangkan bermacam hidangan ataukah itu nubuat, dan dapat dijawab dengan baik oleh sang Prabu. Pada akhirnya sang Prabu mencabut keris dan menikamkan ke sang Ajar Subrata sehingga putranya terkesima bagaimana ayahnya membunuh Ajar. Pada akhirnya dikesempatan yang baik di istana raja, sang Prabu menceritakan pada anaknya mengapa melakukan pembunuhan, dan dijelaskan bahwa semua kejadian itu disebabkan atas permintaan Sultan Maolana yang tersinggung kalah debat dengan Ajar Subrata. Dan memohon pada sang Prabu dengan cara provokasi tentunya untuk membalas dendamnya, dengan meminta membunuh Ajar.
    Disini tercerminkan bahwa bagaimanapun budaja jawi lebih hebat dari budaya arab, dan bagaimana munafiknya sang sultan berbohong dengan menafsirkan suatu kejadian menurut budaya arabnya, dan berbanggalah wahai masyarakat jawi, hargailah budaya sendiri, masa nabi Ibrahim AS yang hidup 3000 tahun yang lalu begitu menghargai budaya bani Jawi dengan memberikan wasiat pada anaknya, dan harus dilaksanakan berupa puzzle: ke arah timur, menuju bukit (bukit padang), keris (keris empu Gandring), dan alter bagaimana Joyoboyo membuat jangka atau ramalan yang terbukti kebenarannya, sedangkan disisi lain kalian masyarakat jawi mengacuhkan dan melupakannya, dan anehnya mereka itu terkesima dengan mengikuti budaya arab yang dikenal sebagai pembohong/jahiliah hehhehheee. Asumsi cerita di atas ini hanyalah sebagai keinginan untuk mendapatkan suatu rasa bangga, yang dianyam indah dari arkeologi yang terdapat di Nusantara ini, seperti dianjurkan dan tertuang dalam Qs. Al A’raf:176 yang berbunyi: “……………..maka ceritakanlah kisah-kisah agar mereka berpikir”.

    Wassalam, maaf kalau aku salah menafsirkan data google yang ada
    H. Bebey,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s